Pelayanan bidan PTT, LA, ditakuti oleh warga, terutama ibu yang hendak melahirkan. Selain keluarga pasien korban Heriyati (26) warga Desa Matang Teungoh, Langkahan, Aceh Utara, dua ibu muda lainnya di desa yang sama ikut bersaksi telah menjadi korban pelayanan yang tidak profesionalnya.
Warga setempat mengaku, lebih leluasa dengan pelayanan dukun, sebagai bidan desa setempat yang akrab disapa Ma Buleuen. Selain berlaku kasar dan arogan, LA juga tidak begitu peduli dengan rintihan pasien. "Kadang-kadang dia kasar ngomongnya, sempat diancam Kakak saya, jika nggak mau jahit (Hetting) dia nggak bakal bertanggung jawab," kata Sulasmi (20) menjelaskan kondisi kakak iparnya yang sempat sekarat setelah 4 hari tidak bisa kencing, usai melahirkan lima hari lalu.
Perlakuan yang nyaris sama disampaikan oleh salah seorang ibu muda yang berhadapan dengan rumah pasien Heriyati. Ibu muda yang namanya tidak disebutkan tersebut mengaku baru 8 bulan bersalin sama bidan yang sama. "Sempat saya periksa dulu menjelang bersalin, ibu bidan malah bilang anak saya sudah meninggal dalam rahim, ternyata tidak," jelasnya.
"Saat begitu lahir anak saya agak berwarna kebiruan. Dia langsung mau melarikannya ke Puskesmas, tapi ma dukun melarang, beberapa saat kemudian anak saya menangis," tambahnya seraya mengatakan bayi mungilnya meninggal pada usia memasuki sebulan.
Hal serupa juga dialami oleh ibu muda yang masih berusia 18 tahun atas nama Erlina Sari warga setempat. Menurut penuturan sumber tersebut, Erlina juga mengalami nasib yang sama. "Dan ada juga satu lagi, agak jauh dikit mengalami hal yang sama. Sedangkan baru-baru ini ma dukun yang nangani, tapi malah bayi dan ibunya sehat," tukasnya.
Sumber tersebut didampinginya ayahnya Ishak kepada wartawan beritalima.com mengeluhkan, katanya ia trauma dengan pelayanan LA. "Begitu saya tau abang ini dari wartawan saya terburu-buru mau menyampaikan hal ini, kami bukannya ingin mempersalahkan bidan itu, tapi itulah yang kami alami," tutupnya sedih.
Sementara itu, Sulasmi pun menceritakan, bayi yang baru saja di lahirkan dari rahim ibunya sempat tidak mengeluarkan suara, diduga terlalu dicengkram terlalu saat proses melahirkan. Namun, beberapa saat kemudian bayi tersebut mengeluarkan suara dan menangis yang sebelumnya diusulkan rujuk ke Puskesmas oleh LA. "Berkat bantuan mak dukun bayi kakak menangis, awalnya dipaksakan rujuk ke Puskesmas oleh bidan," beber Lasmi.
"Setelah melahirkan, kakak sekarat selama empat hari, dan dia mengerang terus, saat kami sampaikan dia (bidan) tidak begitu open. Sementara dia membesuk pasien hanya sebatas melihat-lihat, tidak menyentuh orang yang sedang sekarat, hanya membersihkan bayinya saja," jelasnya seraya menirukan ucapan LA, "Udah biar aja, biasa tu,".
Keluarga pasien membantah keras saat wartawan menanyakan proses persalinan Heriyati dilakukan oleh bidan kampung, sebagaimana yang disampaikan oleh LA. "Mana ada ma dukun yang bantu melahirkan, semuanya dilakukan oleh bu bidan,".
Sebelumnya, LA selaku bidan pegawai tidak tetap (PTT) yang ditugaskan sejak setahun yang lalu itu mengatakan, ia tidak menyentuh pasien, baik dari awal dan usai melahirkan, bahkan hingga sekarang menegaskan tidak menyentuh kemaluan pasien. "Saya tanyakan sama keluarga pasien siapa yang nangani saya atau bidan kampung, jawab mereka adalah saya, tapi saat memasuki menit-menit melahirkan udah ditangani bidan desa itu, itulah sebabnya tidak saya sentuh pasien itu sampai saat ini," demikian pernyataan LA.(EN)
Sumber : Beritalima.com
0 comments :
Post a Comment
Kebebasan yang kami berikan adalah komentar pengunjung tidak terbatas, selagi menghormati SARA. kesan dan saran sangat kami butuhkan, karena melalui media blogspot ini, pengguna bermaksud ingin memberikan apa-pun informasi yang harus diketahui publik. atas kunjungannya, pengguna ucapkan terima kasih....