Home » » Sepenggal Kisah Dramatis Pensiunan Polisi

Sepenggal Kisah Dramatis Pensiunan Polisi

Written By Huinestfend on Wednesday, 6 August 2014 | 16:50


Ilustrasi Net
Hidup memang penuh dengan warna-warni, ada tangis dalam keceriaan dan ada tawa dalam tangisan, demikianlah hidup.

Menjadi seorang polisi kebanyakan dari cita-cita para remaja yang masih mengecap bangku SMA, tentunya menjadi polisi itu merupakan sosok yang gagah dan gentlemen. Mengenakan seragam, berikut uniform, di persenjatai oleh Negara dan hidup penuh aturan dan pastinya disiplin.

Profesi polisi itu bukan sekedar batu loncatan, namun mengenakan seragam coklat abu-abu ini juta pemantaan taraf hidup kendatipun terbatas usia. Banyak hal yang bisa kita kupas mengenai tatanan hidup anggota polisi selaku aparatur Negara. Perlindungan hukum hingga kekeluargaan polisi itu sendiri sangat disiplin.

Sebuah kisah insiratif ingin saya kupas kepada tamu saya diblog ini, sepenggal cerita ini dialami oleh seorang pensiunan polisi yang menjabat sebagai kepala Polisi Sektor di Indonesia. Beliau bisa dikatakan sosok yang berbeda dengan kebanyak aparat hukum lainnya, abdi sangat terasa diantara kedekatan dan keramah tamahannya dengan masyarakat. tidak ada manusia yang sempurna, tapi pelayanan sangat pantas mendapatkan apresiasi publik.

Tidak seberapa lama juga sih penulis mengenali beliau, hanya sekitar dua kali bertugas sebagai kepala dari dua Mapolsek.

Mardan atau kami dari rekan-rekan pers dengan akrab menyapanya Komandan Jenglot, dimana disuatu ketika ia pernah menangani kasus penemuan sebuah jenglot bikinan di sebuah pantai di Indonesia. Dan ia sangat respek terhadap anggota, masyarakat dan bahkan para kuli tinta.

Tidak diketahui tahun berapa ia mulai terlahir kedunia ini, namun saya pastikan beliau menjadi anggota polisi sejak tahun 1976. “Pergerakan AM saya sudah tergabung dengan kepolisian, sebagai anggota Radio,” katanya saat meneguk segelas kopi disebuah warkop di (terereng).

Kegigihan, kesetiaan dan kejujuran merupakan modal dasar mencapai sosialitas yang nyaris sempurna. Karena hal tersebutlah ia mengundang simpatik atasannya sendiri. Walau hanya sebagai anggota Radio ia diangkat menjadi Kepala Unit Reserse dan Kriminal ditempatnya mulai berkarir, sehingga mengantarnya ke gerbang tantangan yang demikian ironis juga miris

Kebencian, cemburu social dan sebagainya memang tak pernah mengenal tempat juga siapa dia, wabah penyakit hati tak pernah lekang dari keperibadian siapapun.

Hidup mapan dalam tekanan kecemburuan dalam keluarga, menghantarkan petaka baginya sekeluarga. Kehidupan harmonis dan dinamis Mardan bersama istri tercinta telah diarunginya hingga menjadi pemimpin lima kepala harus hancur karena fitnah yang keji.

“Saya mengakui mantan istri saya itu sangai lihai dalam mencari rejeki, ia berjualan dan rejekinya pun lumayan lancer, tapi sayangnya ia lebih pecaya orang lain dari suaminya sendiri,” tukasnya datar.

Kisah berawal dari kecemburuan social dalam sebuah kop kepolisian tempat ia bertugas. Anggota radio diangkat menjadi Kanit Res oleh kebijakan pemimpin, tentu saja hal itu memiliki kewajarannya tersendiri bagi kepala. Sedangkan salah satu anggota yang terkhususkan sebagai anggota Reserse harus digantikan posisi oleh Mardan dengan alasan ia tidak memiliki kepercayaan selayaknya Mardan kala itu. “Pemimpin sangat bijak dan tegas, maklum saja lulusan Akedemi Militer,” tambahnya.

Suatu malam, dimana kesibukan telah membunuh setengah dari tenaganya hari ini, waktu itu. Tempat kerja dengan istina kekeluargaannya terbilang jauh. Kendati malam, ia teraksa harus menyelesaikan kasus seorang ibu muda yang mengalami penganiayaan ringan, sehingga dalam laporannya termuat, dirinya mengalami luka berat di kepala dan harus menjalani sebanyak 7 jahitan.

“Saya sibuk memintai keterangan korban di ruang kerja, kasusnya yang rumit membuat saya harus sangat berhati-hati,” kisahnya.

Keasyikan bekerja disebuah ruangan yang hanya terdapat dua insan yakni satu korban dan dirinya selaku penyidik, suara deru langkah yang cepat diluar tempat kerja tak teramati, hal itu tertutui oleh kefokusannya dalam menyidik pekara.

“Seketika itu istri saya masuk dan menjambak pelapor, sehingga 7 jahitan dikepalanya terlepas semua dan darahnya berhamburan,” serunya.

Atas perilaku sang istri ia terpaksa menjalani hukuman, namun sebelumnya ia memastikan dasar informasi yang menyebabkan hal itu terjadi. “Kata mantan istri saya, pelakunya adalah kawan saya sendiri yang memang terasa kebenciannya terhadap saya. Ia mengatakan kamu cape-cave jualan, suami kamu asyik pacaran disana, tak menunggu lama, sebentar saja sudah ia lakukan tugasnya sebagai pecemburu dan terasut fitnah,” sesalnya.

Emosi dan kekesalan yang memuncak kepada atasan dilaporkan, kegaduhan pun terjadi di penebar fitnah pun dibogem mentahkan. “Karena kasus ini saya dipenjarakan delapan bulan setengah, dan komandan saya berusan dengan hukum,” tutupnya.

Demikian kisah penyakit yang mamu menghancurkan tahta kebahagiaan rumah tangga, setelah dirinya menjalani hukuman istri di ceraikan. Menyelesaikan hukuman, Ia kembali bertugas dan menata kembali kehidupannya.

Kini sudah menjadi pensiuan polisi, “Rencana saya banyak sekali ne, pusing mau nyelesein yang mana. Dana pension pun cukup-cukup makan,” tandasnya seraya tertawa.

Efendi Noerdi



0 comments :

Post a Comment

Kebebasan yang kami berikan adalah komentar pengunjung tidak terbatas, selagi menghormati SARA. kesan dan saran sangat kami butuhkan, karena melalui media blogspot ini, pengguna bermaksud ingin memberikan apa-pun informasi yang harus diketahui publik. atas kunjungannya, pengguna ucapkan terima kasih....

Popular Posts