![]() |
| Ilustrasi Net |
Hidup memang penuh dengan
warna-warni, ada tangis dalam keceriaan dan ada tawa dalam tangisan,
demikianlah hidup.
Menjadi seorang polisi kebanyakan
dari cita-cita para remaja yang masih mengecap bangku SMA,
tentunya menjadi polisi itu merupakan sosok yang gagah dan
gentlemen. Mengenakan seragam, berikut uniform, di persenjatai oleh Negara
dan hidup penuh aturan dan pastinya disiplin.
Profesi polisi itu bukan sekedar
batu loncatan, namun mengenakan seragam coklat abu-abu ini juta pemantaan
taraf hidup kendatipun terbatas usia. Banyak hal yang bisa kita
kupas mengenai tatanan hidup anggota polisi selaku aparatur
Negara. Perlindungan hukum hingga kekeluargaan polisi itu sendiri sangat
disiplin.
Sebuah kisah insiratif ingin saya kupas
kepada tamu saya diblog ini, sepenggal cerita ini dialami oleh
seorang pensiunan polisi yang menjabat sebagai kepala
Polisi Sektor di Indonesia. Beliau bisa dikatakan sosok yang berbeda dengan
kebanyak aparat hukum lainnya, abdi sangat terasa diantara kedekatan dan
keramah tamahannya dengan masyarakat. tidak ada manusia yang sempurna,
tapi pelayanan sangat pantas mendapatkan apresiasi
publik.
Tidak seberapa lama juga sih penulis
mengenali beliau, hanya sekitar dua kali bertugas sebagai kepala dari
dua Mapolsek.
Mardan atau kami dari rekan-rekan pers
dengan akrab menyapanya Komandan Jenglot, dimana disuatu ketika ia pernah
menangani kasus penemuan sebuah jenglot bikinan di sebuah pantai
di Indonesia. Dan ia sangat respek terhadap anggota, masyarakat
dan bahkan para kuli tinta.
Tidak diketahui tahun berapa ia
mulai terlahir kedunia ini, namun saya pastikan beliau menjadi anggota polisi
sejak tahun 1976. “Pergerakan AM saya sudah tergabung dengan kepolisian,
sebagai anggota Radio,” katanya saat meneguk segelas kopi disebuah warkop
di (terereng).
Kegigihan, kesetiaan dan kejujuran merupakan
modal dasar mencapai sosialitas yang nyaris sempurna. Karena hal
tersebutlah ia mengundang simpatik atasannya sendiri. Walau hanya
sebagai anggota Radio ia diangkat menjadi Kepala Unit Reserse dan
Kriminal ditempatnya mulai berkarir, sehingga mengantarnya ke gerbang
tantangan yang demikian ironis juga miris
Kebencian, cemburu social dan sebagainya
memang tak pernah mengenal tempat juga siapa dia, wabah penyakit
hati tak pernah lekang dari keperibadian siapapun.
Hidup mapan dalam tekanan
kecemburuan dalam keluarga, menghantarkan petaka baginya sekeluarga. Kehidupan
harmonis dan dinamis Mardan bersama istri tercinta telah diarunginya hingga
menjadi pemimpin lima kepala harus hancur karena fitnah
yang keji.
“Saya mengakui mantan istri saya itu
sangai lihai dalam mencari rejeki, ia berjualan dan rejekinya pun
lumayan lancer, tapi sayangnya ia lebih pecaya orang lain dari
suaminya sendiri,” tukasnya datar.
Kisah berawal dari kecemburuan social dalam
sebuah kop kepolisian tempat ia bertugas. Anggota radio
diangkat menjadi Kanit Res oleh kebijakan pemimpin, tentu saja
hal itu memiliki kewajarannya tersendiri bagi kepala. Sedangkan salah
satu anggota yang terkhususkan sebagai anggota Reserse harus digantikan posisi
oleh Mardan dengan alasan ia tidak memiliki kepercayaan selayaknya
Mardan kala itu. “Pemimpin sangat bijak dan tegas, maklum saja lulusan
Akedemi Militer,” tambahnya.
Suatu malam, dimana kesibukan telah membunuh
setengah dari tenaganya hari ini, waktu itu. Tempat kerja dengan istina
kekeluargaannya terbilang jauh. Kendati malam, ia teraksa harus menyelesaikan
kasus seorang ibu muda yang mengalami penganiayaan ringan, sehingga
dalam laporannya termuat, dirinya mengalami luka berat di kepala
dan harus menjalani sebanyak 7 jahitan.
“Saya sibuk memintai keterangan korban di
ruang kerja, kasusnya yang rumit membuat saya harus sangat berhati-hati,”
kisahnya.
Keasyikan bekerja disebuah ruangan yang
hanya terdapat dua insan yakni satu korban dan dirinya selaku penyidik,
suara deru langkah yang cepat diluar tempat kerja tak teramati,
hal itu tertutui oleh kefokusannya dalam menyidik pekara.
“Seketika itu istri saya masuk dan
menjambak pelapor, sehingga 7 jahitan dikepalanya terlepas
semua dan darahnya berhamburan,” serunya.
Atas perilaku sang istri ia terpaksa
menjalani hukuman, namun sebelumnya ia memastikan dasar informasi yang
menyebabkan hal itu terjadi. “Kata mantan istri saya, pelakunya adalah
kawan saya sendiri yang memang terasa kebenciannya terhadap saya. Ia mengatakan
kamu cape-cave jualan, suami kamu asyik pacaran disana, tak menunggu
lama, sebentar saja sudah ia lakukan tugasnya sebagai pecemburu dan
terasut fitnah,” sesalnya.
Emosi dan kekesalan yang memuncak kepada
atasan dilaporkan, kegaduhan pun terjadi di penebar fitnah
pun dibogem mentahkan. “Karena kasus ini saya dipenjarakan delapan
bulan setengah, dan komandan saya berusan dengan hukum,” tutupnya.
Demikian kisah penyakit yang mamu
menghancurkan tahta kebahagiaan rumah tangga, setelah dirinya menjalani hukuman
istri di ceraikan. Menyelesaikan hukuman, Ia kembali bertugas dan menata
kembali kehidupannya.
Kini sudah menjadi pensiuan polisi,
“Rencana saya banyak sekali ne, pusing mau nyelesein yang mana. Dana pension
pun cukup-cukup makan,” tandasnya seraya tertawa.
Efendi Noerdi

0 comments :
Post a Comment
Kebebasan yang kami berikan adalah komentar pengunjung tidak terbatas, selagi menghormati SARA. kesan dan saran sangat kami butuhkan, karena melalui media blogspot ini, pengguna bermaksud ingin memberikan apa-pun informasi yang harus diketahui publik. atas kunjungannya, pengguna ucapkan terima kasih....