Warga Desa Meudang Ara, Kec. Baktiya, Aceh Utara membaoikot Pilkades, karena mantan kepala desa (Geuchik) yang juga salah satu calon yang mengajukan diri sebagai calon Kades, harus mempertanggung jawabkan laporan keuangan desa yang disinyalir telah dikorupsi.
Saat ini desa terkait masih di Pjkan oleh Aiyub namun, seharusnya, sejak sebulan yang lalu kepala desa setempat harus dilakukan pemilihan yang baru. Sejak itu juga, sumber mengatakan kondisi desa terkait kacau balau. “Warga menuntut geuchik (kepala desa-red) mempertanggung jawabkan keungan desa terlebih dahulu, oleh karenanya Pilkades di boikot,” jelas sumber, Selasa (28/01).
Dikatakan dua calon geuchik telah mundur, karena mantan geuchik sebelumnya yang juga mencalonkan diri sebagai geuchik baru tidak mempertanggung jawabkan laporan keungan desa yang disinyalir telah diselewengkan.
Dari PT Exxon Mobil telah membantu dan keamanan pagar bantuan perusahaan terkait, namun insentif yang diberikan sebanyak Rp. 5 Juta perbulannya dikatakan dikantongi oknum geuchik yang bersangkutan. “Exxon mobil telah membantu anggaran desa sebesar Rp. 5 Juta perbulan. Katanya (Geuchik) untuk kas KPA Sagoe sebesar Rp. 1,5 Juta, muspika dan selebihnya tidak diketahui kemana dan anggaran bantuan tersebut, itu pun sudah berlangsung sejak lama,” imbuh sumber. Hal lain yang disampaikan sumber, dana BKPG juga bermasalah.
Kesaksian sumber kepada wartawan juga mengungkapkan, AB yang mencalonkan diri kembali terlalu mendesakan dirinya, sumber memperlihatkan fotocopy ijazah paket C atas nama Abdullah penuh rekayasa dengan dugaan pemalsuan tanda tangan. “Sudah kami hubungi beberapa pihak yang memberikan tanda tangan untuk ijazah itu, tapi mereka mengaku tidak memberikannya,” tukas sumber.
AB yang dihubungi wartawan melalui selularnya mengakui sejumlah anggaran tersebut dipermasalahkan. “Benar, bahkan karena uang itu, sekarang saya dipermasalahkan dan saya juga tidak mengerti, dua calon geuchik mengundurkan diri,” kata AB.
Terkait penggunaan anggaran bantuan pengamanan Exxon Mobil dibantah AB telah diselewengkan, “Benar itu saya ambil perbulan sebesar Rp 5 Juta. 1,5 Juta untuk KPA, 1 Juta untuk desa, Rp 500 untuk Muspika untuk mengurus segala kepeluan teken dan selebihnya punya saya, karena uang itu uang buat saya,” jelasnya. “Dan itu udah saya selesaikan semua, saya rasa tidak bermasalah, karena sebelumnya, kalau uang itu dibagikan rata, maka hanya 16 orang saja yang mendapatkannya sebesar Rp 50.000 perorang. Kami berinisiatif dalam musyawarah, uang itu diperuntukan untuk pembangunan menasah itu dipermasalahkan” tambahnya seraya mengatakan uang tersebut telah disalurkan Exxon Mobil sejak 2009 lalu hingga saat ini.
“Masalah BKPG (Bantuan Keuangan Peumakmu Gampong) juga sudah saya sampaikan dalam rapat, semua udah jelas. Karena saya akui saya masih terutang dengan desa sebanyak Rp. 9 juta, sudah saya lunaskan, jadi sisanya sekita Rp 3 jutaan, saya tangguhkan 4 bulan,” pungkas AB.(EN)
Photo : Sumber sedang memperlihatkan Ijazah paket C yang disinyalir terjadi dipalsukan tanda tangan pejabat oleh oknum AB
Sumber : Beritalima.com

0 comments :
Post a Comment
Kebebasan yang kami berikan adalah komentar pengunjung tidak terbatas, selagi menghormati SARA. kesan dan saran sangat kami butuhkan, karena melalui media blogspot ini, pengguna bermaksud ingin memberikan apa-pun informasi yang harus diketahui publik. atas kunjungannya, pengguna ucapkan terima kasih....