Heriyati (26) ibu muda yang kritis saat melahirkan di rumahnya di Desa Matang Teungoh, Kec. Langkahan, Kab. Aceh Utara. Ia mengalami kurusakan pintu rahimnya, diduga disebabkan bayi dikeluarkan paksa dari rahimnya oleh bidan, sekitar 4 hari lalu.
Mirisnya, nasib ibu muda yang baru melahirkan bayi pertamanya itu tidak bias buang air kecil selama 4 hari pasca bersalin, Selasa (29/01) keluarga yakni suami pasien dan mengkomplain hal tersebut. Kondisi pasien saat itu, dari keterangan adik ipar pasien Sulasmi (20) mengatakan sedang sekarat. “Kakak tidak bisa buang air kecil, kelaminnya pun sudah sobek besar dan nyaris membusuk,” katanya.
Kepada LA, bidan Pegawai Tidak Tetap (PTT) yang ditugaskan di desa terkait, pihak pasien mengaku melaporkan kejadian itu. Ironisnya LA tidak menanggapinya. “Dia bilang tidak apa-apa, sementara pasien sekarang dan sangat menahan sakit karena tidak bisa kencing udah beberapa hari. Akhirnya kami laporkan ke Puskesmas baru mendapatkan pertolongan,” jelas Sulasmi.
“Kami diminta keluarga pasien, sementara di desa itu ada bidannya. Namun pasien mengeluh karena tidak dilayani dengan baik, berikutnya saya kerumah pasien dan melihat pasien harus segera ditolong,” kata salah seorang perawat di Puskesmas Pembantu, Langkahan yang tidak bersedia namanya ditulis.
Warga mengakui, dengan pertolong perawat yang bersangkutan pasien bisa buang air kecil. Namun, pengakuan keluarga pasien itu, kelamin pasien usai melahirkan sudah infeksi dan berubah warna disertai sakit yang luar biasa. “Sering mengeluhkan sakit, pintu rahimnya itu terbuka sangat lebar dijahit hanya sekali, sekarang pun udah terbuka lagi,” Aku Sulasmi mengaku mendapatkan petunjuk perawat.
Bidan bantah, proses melahirkan Heriyatri melalui bidan kampong
Sebelum mendapatkan konfirmasi keluarga pasien, LA saat dikonfirmasikan wartawan ditempat tugasnya yang tak jauh dari rumah pasien, membantah kalau dirinya tidak melayani secara maksimal, namun dikarenakan proses melahirkan Heriyati awal dan hingga melahirkan itu melalui bidan kampung (Mak Dukun). “Saya akui, saya tidak pernah menyentuh pintu rahim korban sampai saat ini. Karena dia melahirkan diperbantukan oleh bidan kampung, dan dia memaksa memasukkan tangan kedalam rahim pasien untuk mengeluarkan ari-arinya” bantah LA di damping suaminya.
“Namun pasien terlalu keras jika dibilangin, saat saya bilang dia harus dilarikan ke Puskesmas tapi membantah, mau di jahit juga begitu. Jadi jangan kami disalahkan,” ujar LA.
Hal itu ditampik keras keras oleh kelurga pasien. “Masak dia bilang Ma Buleuen (panggilan bidan kampung) yang tangani, tapi dia sendiri. Saat itu dari Ma Buleuen mengatakan, kakak belum waktunya melahirkan, dia mengusulkan dia disuntik dulu agar punya kekuatan,” jelas Selastri lagi. “Saat bidan itu dating, langsung aja mengatakan pasien harus segera melahirkan, dan dia memaksa si ibu mendorong janinnya dan memasukkan tanggannya kerahim secara kasar,” tambah adik ipar pasien kesal dan mengaku menyaksikannya.(EN)
Saat ini kondisi korban sedang lemas dan belum tertangan secara maksimal, sementara bidan terkait dengan pihak puskesmas sedang tidak kompak. Bidan yang bersangkutan belum memahami tugasnya.(EN)
Sumber :Beritalima.com
0 comments :
Post a Comment
Kebebasan yang kami berikan adalah komentar pengunjung tidak terbatas, selagi menghormati SARA. kesan dan saran sangat kami butuhkan, karena melalui media blogspot ini, pengguna bermaksud ingin memberikan apa-pun informasi yang harus diketahui publik. atas kunjungannya, pengguna ucapkan terima kasih....