BP2A
sudah tidak ada lagi di Aceh setelah beberapa saat lalu baru digantikan
dengan BRA. Untuk menuntaskan kompensasi kerugian korban materi juga
jiwa di Aceh semassa konflik masih terkesan nihil.
Seperti
ketahui, peralihan nama Badan Reintegrasi Aceh (BRA) menjadi Badan
Penguatan Perdamaian Aceh (BP2A) baru-baru ini, saat itu dipastikan
pengganti lembaga reintegrasi tersebut akan segera menuntaskan
permasalahan kerugian rakyat Aceh semasa konflik berkecamuk di Aceh.
Namun, ironisnya, secara perlahan kompensasi yang sudah diplotkan untuk
korban konflik berdasarkan data putihnya terlucuti. Berbagai pihak
mengklain keberadaan pemerintah Aceh bukan
untuk menyelesaikan perkara imbas konflik yang seharusnya sudah
diselesaikan sejak tahun-tahun yang lalu.
Kendati
demikian, masyarakat korban masih menanti janji manis yang tertuangkan
dalam Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki, seraya berharap
hak-hak mereka segera diselesaikan. “Kita melihat yang sedang ditangani
sekarang bukan masyarakat korban konflik, tapi pelaku konfliknya yang
mendapatkan perhatian,” kata ketua Pusat Lembaga Acheh Future, Razali
Yusuf kepada wartawan, Sabtu (25/01). “Hal ini kita sampaikan, terkait
20.000 korban pengaduan yang telah masuk ke AF sejak 2009 hingga detik
ini belum juga terlaksana,”.
Terhitung
sejak tahun 2009 silam, menurut Razali yusuf, pihaknya telah menerima
laporan beragam katagori antaranya, Korban Pemerkosaan, Syuhada (Diet
korban), korban harta benda, bahkan ratusan pengaduan jiwa yang hilang
dan belum kunjung ditehui nisannya hingga hari ini
serta masih banyak laporan dalam bentuk lainnya. Pengadulan itupun
telah resmi disampaikan kepada pemerintah Aceh yang juga tak luput dari
DPR Aceh. “Kita ajukan sejak tahun 2011 lalu dan belum terealisasi.
Padahal, sejauh ini lembaga sudah mengupayakan sekuat tenaga, apalagi
setelah kita mendapatkan tanggapan resmi dari Ketua DPR Aceh juga
Gubernur Aceh yang kemudian meminta laporan tersebut diajukan segera
karena akan ditangani,” imbuh Razali.
Lembaga
yang terlibat langsung tentang program itu, Acheh Future mengakui
sangat menyesalkan kinenrja pemerintah Aceh saat ini, pemerintah dinilai
kurang serius dalam menanggapi laporan keluhan masyarakat korban yang
bersangkutan. “Buktinya, pemerintah Aceh meminta kami untuk membawa data
yang valid pada akhir 2012 yang diterima langsung oleh Zaini Abdullah
di Pendopa Gubernur Aceh, dan baik Gubernur maupun ketua DPR Aceh telah
menjanjikan percepatan penyelesaiannya,” lanjutnya
lagi.
“Kita
mendesak pemerintah Aceh harus segera menyelesaikan kompensasi kepada
masyarakat korban, karena dengan adanya korban, Gubernur dan DPRA sudah
menikmati momentnya seperti saat ini,” harap Lembaga Acheh Future.(EN)

0 comments :
Post a Comment
Kebebasan yang kami berikan adalah komentar pengunjung tidak terbatas, selagi menghormati SARA. kesan dan saran sangat kami butuhkan, karena melalui media blogspot ini, pengguna bermaksud ingin memberikan apa-pun informasi yang harus diketahui publik. atas kunjungannya, pengguna ucapkan terima kasih....